Events

Aksin, Penjaga Sumber Air dari Gunung Bawang: 26 Tahun Menghidupkan Harapan di Pekuwon

Pihak manajemen EMCL bersama Aksin dan warga lainnya saat melakukan penanaman di kawasan sumber air di Desa Pakuwon, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban.

TUBAN,SUARADATA.com-Di tengah keringnya lahan dan hilangnya mata air di kaki Gunung Bawang, seorang pria bernama Aksin menolak menyerah.

Selama lebih dari dua dekade, Kepala Desa Pekuwon, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban itu menanam ribuan pohon demi satu tujuan sederhana mengembalikan kehidupan dari tanah yang nyaris mati.

Selama 26 tahun terakhir, Kepala Desa Pekuwon, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban ini mendedikasikan hidupnya untuk memulihkan sumber air di desanya yang sempat mengering.

Saat ditemui di ketinggian 80 meter di atas permukaan laut, Aksin tampak sibuk menanam bibit pohon di lahan seluas satu hektar miliknya. Bersama seorang warga, ia menyiapkan 250 lubang tanam baru. Di sekelilingnya, pohon kayu dan buah yang ia tanam beberapa tahun lalu tumbuh subur.

Sementara, tak jauh dari lahan itu air jernih mengalir deras dari sebuah goa kecil. Dari situlah 1.200 rumah tangga di Desa Pekuwon kini mendapatkan air bersih. Puluhan pipa menyalurkan air ke rumah-rumah warga, sementara sebagian lainnya ditampung menjadi sebuah danau kecil. Danau Ngerong Pekuwon saksi nyata kerja keras Aksin selama puluhan tahun

“Setiap kali menanam, rasanya seperti menambah harapan,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (25/10/2025).

Lebih lanjut, Aksin masih ingat betul masa kecilnya di kaki Gunung Bawang. Dulu, daerah itu rimbun oleh pepohonan, udaranya sejuk, dan sumber air tak pernah kering.

“Dulu di sini penuh pohon. Saya sering mandi di sumber air itu,” kenangnya.

Namun, sekitar tahun 1998, segalanya berubah. Warga menebang pohon di Gunung Bawang untuk dijual. Gunung yang dulunya hijau, berubah gundul. Air berhenti mengalir. Bahkan danau yang dulu menjadi kebanggaan warga sempat berubah menjadi lapangan sepak bola karena kering total.

“Waktu itu sangat memprihatinkan,” ucapnya lirih

Titik balik datang pada tahun 2008, saat pemerintah pusat meluncurkan program pengembalian fungsi lahan. Sebagai pemuda karangtaruna kala itu, Aksin tergerak untuk ikut menanam. Ia mengajak warga lain ikut menanam pohon di sekitar sumber air. Namun perjuangan itu tidak mudah. Bibit banyak yang mati, sebagian warga menolak.

“Banyak yang pesimis, tapi saya tidak menyerah,” ujarnya. Dukungan keluarga menjadi kekuatan besar baginya untuk terus menanam dan mengedukasi masyarakat.

Ketika menjabat sebagai Kepala Desa, Aksin bahkan mengalihkan tanah warisan kakek-neneknya menjadi aset desa. Tujuannya, agar sumber air dan lahan di sekitarnya bisa dijaga untuk kepentingan umum.

“Air ini bukan untuk saya, tapi untuk semua,” tegasnya.

Setelah satu dekade kerja keras hasilnya mulai tampak. Pada tahun 2018, mata air kembali mengalir. Lapangan sepak bola yang dulu gersang berubah menjadi danau. Warga pun tak lagi kesulitan mendapatkan air bersih.

“Tapi saya belum puas. Saya ingin Gunung Bawang kembali hijau,” kata Aksin penuh semangat.

Perjuangan Aksin menarik perhatian berbagai pihak, termasuk ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), operator Blok Cepu yang melintas di wilayah desanya. EMCL tidak hanya membantu pembangunan infrastruktur pendukung, tetapi juga turut membangun kesadaran lingkungan di masyarakat.

“EMCL komitmennya bagus. Bantuan mereka sangat membantu kami,” tutur Aksin sumringah.
Pohon-pohon yang kini ia tanam pun sebagian besar berasal dari bantuan program EMCL.

Baginya, yang terpenting bukan hanya menanam pohon, tapi menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga alam. “Kalau masyarakat sadar, hasilnya akan bertahan lama,” katanya.

Kini, di usia 54 tahun, Aksin tak menunjukkan tanda lelah. Setiap hari ia masih menyempatkan diri menengok mata air, memastikan pipa mengalir, dan menanam bibit baru. Ia berharap dukungan terus mengalir, baik dari masyarakat, pemerintah daerah, maupun pusat.

“Saya percaya, air yang mengalir hari ini bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk anak cucu nanti,” tuturnya, menatap rimbun Gunung Bawang yang mulai hijau kembali bukti nyata bahwa kerja keras dan cinta pada alam tak pernah sia-sia.(Sal/And/Red)

Suara Data Network

assalamualaikum

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button