Cetak Sejarah, MAN 2 Tuban Gelar Kokurikuler Berbasis Ekoteologi, Ubah Singkong Jadi Inovasi
TUBAN, SUARADATA.com-Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tuban telah mencetak sejarah baru. Kali ini madrasah di bawah naungan Kemenag Tuban itu membuat kegiatan kokurikuler yang berbasis ekoteologi dan sekaligus memperingat Hari Kartini 2026, Rabu (29/4/2026).
“Tema kegiatan ini “Kartini dan Alam: Kreasi, Aksi dan Inovasi dalam bingkai ekoteologi,” tutur Kepala MAN 2 Tuban, H Qomaruddin.
Ia menambahkan, kegiatan ini dalam rangka meningkatkan keterampilan siswa sesuai keahliannya masing-masing. Dewan guru telah menyiapkan berbagai kategori, diantaranya fashion show, mural, modifikasi masakan berbahan singkong dan cipta karya siswa.
“Semua kegiatan ini untuk siswa dan setiap kelompok didampingi dewan guru sebagai pembina kreativitas. Dalam pelaksanaan mereka menggunakan pakaian kartinian,” paparnya.
Qomar menegaskan, kegiatan ini bukan sekadar lomba. Sebab, dalam prosesnya untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh dan kreatif dalam menghadapi kehidupan. Tentu MAN 2 Tuban ingin mengukuhkan diri sebagai madrasah kokurikuler.
“Kokurikuler ini maksudnya ialah, selain mata pelajaran wajib, pengembangan kapasitas dan keterampilan siswa harus benar-benar diperhatikan dan didukung,” tegasnya.
Menurut Qomar, saat Hari Kartini para siswa diajak untuk tidak hanya mengenang perjuangan emansipasi. Tetapi juga menerjemahkannya dalam bentuk karya nyata dan karya yang membumi.
“Tentu berpijak pada potensi sekitar, dan memberi manfaat bagi banyak orang,” ucapnya.
Disisi lain, Qomar menjelaskan, ada kegiatan pengolahan masakan singkong sebagai bahan utama dan hal ini ada alasan yang kuat. Yakni tanaman ini tumbuh melimpah dan selama ini nilainya kerap dianggap rendah. Namun di tangan para siswa, singkong justru menjelma menjadi simbol potensi lokal yang bisa diangkat ke level yang lebih tinggi.
“Kalau anak-anak bisa mengolah singkong menjadi produk bernilai jual, itu artinya mereka tidak hanya belajar memasak, tapi juga belajar ekonomi,” bebernya.
Kata dia, di tangan generasi muda ini, singkong bukan lagi sekadar umbi. Ia adalah cerita tentang harapan, bahwa dari hal-hal sederhana, lahir inovasi. Bahwa dari ruang kelas, tumbuh keberanian untuk berkarya.
“Sehingga ketika dijalankan dengan hati, mampu menumbuhkan bukan hanya pengetahuan, tetapi juga kemandirian dan kepedulian,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Kemenag Tuban, Umi Kulsum yang hadir membuka acara memberikan, apresiasi kepada MAN 2 Tuban yang sudah berani mengintegrasikan pendidikan dengan kebutuhan nyata di masyarakat. Sehingga, kegiatan seperti ini tidak boleh berhenti di lingkup sekolah, tapi hasil karya siswa dapat tampil di berbagai event yang lebih luas. Bahkan, menjadi produk yang benar-benar dipasarkan.
“Ini harus digarap serius. Bukan hanya tampil saat lomba, tapi bagaimana produk ini bisa berkembang. Kemasan dan tampilannya juga harus diperhatikan,” tutupnya.(Sal/And/Red)