Events

Dapur MBG di Semanding Tuban, dari Aroma Masakan Jadi Sumber Rezeki Warga

Para Ibu-Ibu SPPG di Kecamatan Semanding saat memasak untuk program MBG.

TUBAN, SUARADATA.com-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Tuban tak hanya memastikan anak-anak sekolah mendapat asupan sehat setiap hari, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi para relawan dapur.

Para ibu yang terlibat kini tak sekadar berbagi tenaga, melainkan turut merasakan peningkatan kesejahteraan dari hasil jerih payah mereka.

Seperti Atik perempuan (41) itu sibuk menyiapkan ratusan porsi makanan bergizi untuk anak-anak sekolah. Namun siapa sangka, dapur yang dulu hanya dipandang sebagai ruang kerja sukarela, kini justru menjadi sumber rezeki baru bagi banyak keluarga.

Atik mengaku sejak bergabung dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) hidupnya terasa lebih berarti. Tak hanya semangat sosialnya yang tumbuh, tetapi juga pendapatannya ikut meningkat.

“Kami senang bisa membantu anak-anak makan bergizi, tapi lebih dari itu, kami para ibu di dapur ini juga ikut terbantu. Ada tambahan penghasilan, dan bahan masakan kami beli dari tetangga sendiri,” ungkapnya dengan wajah sumringah, Jum’at (10/10/2025).

Sistem yang diterapkan dapur MBG, lanjut Atik, membuat roda ekonomi berputar di tingkat bawah. Setiap hari, sayuran dibeli dari petani sekitar, tempe dari pengrajin lokal, dan telur dari peternak desa.

“Jadi bukan hanya anak-anak yang kenyang, tapi warga desa juga ikut hidup,” ujarnya.

Hal senada disampaikan M. Taufiqur Rohman, Kepala SPPG Semanding yang bermitra dengan Yayasan Bumi Wali Berdikari. Ia menjelaskan, pembagian anggaran program MBG sebesar Rp15 ribu per porsi benar-benar diarahkan untuk memberdayakan masyarakat.

“Dari Rp15 ribu itu, sepuluh ribu digunakan untuk membeli bahan makanan dari petani dan UMKM lokal. Tiga ribu untuk operasional dapur dan relawan, serta dua ribu untuk mitra pengelola. Jadi semua unsur ekonomi rakyat ikut bergerak,” jelas Taufiq.

Lebih lanjut, Taufiq menegaskan bahwa dapur MBG bukan sekadar proyek bantuan gizi, tetapi model baru pemberdayaan masyarakat berbasis pangan lokal. Di Kecamatan Semanding saja, ratusan warga kini terlibat langsung dalam rantai pasok gizi—mulai dari petani, pedagang, hingga relawan dapur.

“Kalau dulu dapur identik dengan pekerjaan domestik, sekarang justru jadi dapur ekonomi. Warga punya kebanggaan baru, karena dapur ini memberi manfaat sosial dan ekonomi sekaligus,” pungkasnya.

Oleh karena itu, program MBG diharapkan menjadi tonggak perubahan bagi desa-desa di Kabupaten Tuban. Dapur kini bukan lagi sekadar tempat memasak, tetapi juga tempat bertumbuhnya kesejahteraan dan solidaritas antar warga.(Sal/And/Red)

Suara Data Network

assalamualaikum

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button