Events

Lestarikan Budaya, Waranggono di Tuban Ikut Tradisi Siraman

Para Waranggono saat Melakukan Ritual Siraman.


TUBAN, SUARADATA.com-
Upaya melestarikan tradisi lokal kembali menggeliat di Kabupaten Tuban. Puluhan waranggono atauseniman perempuan yang menjadi ikon seni tayub mengikuti prosesi wisuda sekaligus ritual sakral Siraman Waranggono di Pemandian Bektiharjo, Kecamatan Semanding, Rabu (10/12/2025).

Kegiatan yang sempat vakum sejak 2019 ini sontak menyedot perhatian ratusan warga, tokoh adat, perangkat desa, hingga para pegiat seni budaya dari berbagai Kecamatan di Tuban.

Siraman Waranggono merupakan salah satu tradisi budaya paling khas di Tuban. Ritual ini dimaknai sebagai permohonan perlindungan, keselamatan, dan kelancaran rezeki bagi para waranggono yang selama ini menjalankan peran penting dalam seni tayub.

Para waranggono tampil anggun mengenakan gaun putih lengkap dengan rangkaian bunga melati di kepala. Satu per satu, mereka menjalani prosesi mulai dari pembasuhan wajah, kaki, dan tangan. Hingga menerima air siraman dari para sesepuh seni budaya yang dianggap memiliki kewibawaan dan pengetahuan mendalam tentang tradisi ini.

Lebih dari sekadar seremoni, prosesi ini sekaligus menjadi momen wisuda bagi para waranggono sebagai bentuk penghormatan dan pengukuhan atas peran mereka dalam menjaga hidupnya seni Langen Tayub.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Tuban, M. Emawan Putra menjelaskan, tradisi Siraman Waranggono terakhir digelar sekitar tahun 2018–2019. Tahun ini, pihaknya kembali menggelar ritus tersebut dengan pendekatan baru yang lebih menonjolkan nilai sakral dan filosofi dasar tradisi.

“Ini merupakan ritual memohon agar dihindarkan dari marabahaya dan diberikan kelancaran,” ujar Emawan.

Ia menegaskan, kebangkitan tradisi ini adalah momentum penting untuk memperkuat identitas kesenian lokal Tuban. Namun, ia juga mengakui bahwa hingga kini seni Waranggono, Langen Tayub, maupun Sindir belum tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) nasional.

Menurutnya, hal tersebut terjadi karena kurangnya literasi dan pengenalan yang kuat kepada para juri mengenai ciri khas kesenian Tuban.

“Ciri khas Tuban itu harus kami tonjolkan. Mungkin itu yang belum terbaca para juri. Dan kami mengajak pegiat seni untuk terus memperkuat identitas seni tradisional agar layak kembali diusulkan sebagai WBTB pada tahun mendatang,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Emawan juga menekankan pentingnya menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada pagelaran tayub. Menurutnya, waranggono harus diperlakukan sebagai seniman terhormat, bukan semata objek hiburan.

“Mereka ini ibarat diva. Harus kami muliakan,” tegasnya.(Sal/And/Red)

Suara Data Network

assalamualaikum

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button