TUBAN, SUARADATA.com-Semangat persatuan dan kerukunan umat beragama kembali digaungkan melalui kegiatan Doa Kebangsaan Lintas Agama yang digelar jajaran Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tuban, bersama tokoh lintas agama, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan sekaligus menumbuhkan rasa cinta Tanah Air dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kegiatan diawali dengan pembacaan Yasin sebanyak 81.000 kali yang dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama. Doa juga secara khusus dipanjatkan untuk saudara-saudara di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah tertimpa musibah.
Doa lintas agama kemudian dipimpin secara bergantian oleh para tokoh agama. Dari umat Islam disampaikan Sekretaris MUI KH Taufiequrachman, disusul Pendeta Fany dari umat Kristen, Romo Michal dari umat Katolik, A Wayan dari umat Hindu, Marjoko dari umat Buddha, serta Ibu Mariya dari umat Khonghucu.
Kegiatan tersebut diikuti Ketua MUI, Bamag, perwakilan Paroki Katolik, tokoh Hindu, Ketua Walubi, Ketua Makin, jajaran Kasubag dan Kasi, ASN di lingkungan Kemenag. Dihadiri pula Kepala KUA, penyuluh, penghulu, pengawas, kepala satuan kerja madrasah, RA, MI, MTs, MA, MDT, takmir masjid, pondok pesantren, TPQ dan Madrasah Diniyah. Kegiatan berlangsung secara luring maupun daring.
Dalam sambutan kebangsaan, Kepala Kantor Kemenag Tuban, Umi Kulsum menyampaikan, pesan Menteri Agama mengenai pentingnya menjaga kehidupan yang rukun, berdampingan, serta saling menghormati di tengah keberagaman bangsa Indonesia.
Disampaikan pula bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah. Kemerdekaan lahir dari perjuangan, pengorbanan, darah, air mata, serta doa para pendahulu bangsa.
“Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa kemerdekaan terjadi atas berkat rahmat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa. Karena itu, kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga amanah untuk disyukuri dan diwujudkan,” ungkapnya.
Lanjutnya, sejarah juga mencatat bahwa para tokoh agama dan umatnya turut berada di garis depan dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Ulama, pendeta, pastor, pandita, bhikkhu, serta tokoh agama lainnya telah menanamkan keberanian, persatuan, dan kecintaan terhadap Tanah Air.
“Hari ini tugas kita adalah mengisi kemerdekaan dengan ilmu, kerja keras, integritas, inovasi dan pengabdian. Indonesia besar karena keberagaman, karenanya, kerukunan jadi modal dasar pembangunan. Tanpa kerukunan, bangsa ini akan sulit bertumbuh dan maju,” tegasnya.
Ia menyebutkan, indeks kerukunan umat beragama terus menunjukkan peningkatan, dari 76,45 pada 2024 menjadi 77,89 pada 2025. Angka tersebut disebut sebagai capaian tertinggi. Sementara Indeks Kesalehan Umat Beragama pada 2025 mencapai 84,61.
Kondisi tersebut, lanjutnya, harus disyukuri dan terus dijaga. Perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk bermusuhan, begitu pula agama tidak boleh dijadikan alasan untuk saling menjauh.
“Jadikan agama dan nilai-nilainya sebagai jalan untuk saling menguatkan dan memberikan makna kehidupan,” pesannya.
Umi sapaan akrabnya, juga menekankan pentingnya menjadikan rumah ibadah sebagai tempat yang menenteramkan. Madrasah, pesantren, majelis taklim, sekolah minggu, pasraman, widyalaya, maupun ruang kajian keagamaan diharapkan menjadi tempat tumbuhnya ilmu pengetahuan dan akhlak.
“Agama harus menjadi sumber pencerahan, kedamaian, serta kemaslahatan,” pintanya.
Melalui doa bersama lintas agama tersebut, diharapkan persatuan dan kesatuan bangsa semakin kuat. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari implementasi Asta Protas Kementerian Agama, khususnya dalam upaya meningkatkan kerukunan dan cinta kemanusiaan.
“Dengan Acara Do, a bersama lintas agama ini semoga bisa memperkuat rasa persatuan dan kesatuan untuk mempertahankan NKRI,” pungkasnya.(Sal/And/Red)