Events

Pertamina EP Komitmen Dorong Ekowisata Berbasis Budaya di Kampung Adat Malasigi

Kepala Kampung Wisata Adat Malasigi, Menase Fami, setelah memberikan pemaparan di Acara Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina 2025 di Makassar.

MAKASSAR,SUARADATA.com-Komitmen Pertamina dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah terluar Indonesia telah dibuktikan melalui program pemberdayaan masyarakat di wilayah Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Hal itu diimplementasikan oleh Pertamina EP Papua Field sejak 2023 lalu yang turut aktif mendampingi masyarakat Kampung Adat Malasigi. Dalam komitmennya Pertamina EP telah membantu mengembangkan ekowisata yang ada kampung adat. Termasuk, memaksimalkan ekowisata sumber air panas alami, membantu dibidang pertanian berkelanjutan dan menyalurkan energi bersih.

Community Development Officer (CDO) Pertamina EP Papua Field, Ishlah menjelaskan, pendampingan yang dilakukan tidak hanya sebatas pelatihan rutin, tetapi juga menyentuh sektor ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Salah satu program adalah pengembangan anyaman Noken atau kerajinan tangan khas suku Moi yang memiliki nilai budaya tinggi.

“Anyaman Noken itu adalah warisan leluhur masyarakat Moi. Kami mendampingi proses produksi, hingga pewarnaannya. Tentu dengan memanfaatkan bahan alami dari hutan sekitar. Tidak ada bahan kimia di sini,” jelas Ishlah, saat ditemui di Media Gathering 2025 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, di Makassar, pada Senin (23/6/2025).

Menurutnya, pewarna alami untuk Noken diperoleh melalui observasi tumbuhan lokal oleh tim Pertamina bersama warga. Tanaman seperti akar, daun dan kulit kayu menjadi sumber warna alami yang ramah lingkungan sekaligus memperkuat kearifan lokal.

“Tak hanya soal budaya, Pertamina juga mendorong masyarakat bertransformasi dari sistem pertanian konvensional menuju pertanian berkelanjutan,” ungkap pria berkacamata ini.

Selain itu, melalui program Agroforestry, masyarakat telah menanam tumbuhan langka yang terancam punah atau LTE dan MPTS atau bisa disebut tanaman multifungsi. Tanaman tersebut salah satunya digunakan sebagai bahan baku pembuatan Noken dari kulit pohon. Selain itu, hasil panen seperti pisang juga diolah menjadi keripik untuk disajikan kepada para wisatawan.

“Jadi ketika ada tamu datang, mereka tidak hanya melihat budaya dan alam. Tetapi juga bisa mencicipi hasil olahan lokal seperti keripik pisang, sayuran segar dari greenhouse dan hasil kebun lainnya,” tambahnya.

Dalam aspek energi, Pertamina juga menaruh perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Dulu warga masih bergantung pada aliran sungai dari pegunungan tanpa akses listrik dan internet. Kini berkat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 8.700 watt lengkap dengan baterai, warga bisa menikmati listrik selama 24 jam.

“Kami ingin menciptakan ekosistem yang menyeluruh, pariwisata berkelanjutan, pertanian yang mandiri, dan pelestarian budaya,” imbuh Ishlah.

Dok: Pertamina Hulu Energi

Sementara itu, Kepala Kampung Adat Malasigi, Menase Fami bercerita, dulu merupakan sebuah kampung kecil yang hanya bergantung pada berburu dan berkebun di tengah hutan lebat. Kini kampung adat tersebut berubah menjadi salah satu destinasi wisata tersembunyi dengan potensi luar biasa.

“Semua berawal dari pengembangan ekowisata adat, sumber air panas alami dan potensi hutan masih asri yang menjadi perubahan besar bagi masyarakat,” tutur Manase panggilan akrabnya.

Lanjutnya, pada 2022 menjadi tonggak awal perjalanan ini. Warga Kampung Malasigi, Kabupaten Sorong mulai menggali potensi wisata sumber air panas yang unik dan mengalir langsung dari celah batu di dasar sungai.

Tidak hanya itu, kawasan hutan ini juga menjadi habitat alami lima jenis burung cendrawasih. Termasuk Cendrawasih Raja Dada Biru dan Cendrawasih Kuning, burung langka yang menjadi simbol eksotis Tanah Papua.

“Dulu kampung kami gelap, tidak ada listrik dan hanya pakai obor. Hari ini berkat pendampingan NGO, Pertamina dan pemerintah, kampung kami hidup 24 jam. Ada listrik, ada air bersih dan kini kami bisa menghemat uang sekitar 30-40 juta perbulan,” terangnya.

Menurut pria yang juga menjadi Ketua LPHK atau Lembaga Penyuluh Hutan Kampung itu mengatakan, tak mudah memang mengembangkan ekowisata. Jalan terjal, jembatan rusak, bahkan akses internet yang terbatas menjadi tantangan sehari-hari. Namun, hal itu tak menyurutkan warga kampung Manasigi yang menjadi motor penggerak wisata di kampung tersebut.

Dengan segala keterbatasan, mereka mulai menawarkan pengalaman wisata berbasis budaya dan alam. Seperti pertunjukan tari adat saat tamu datang, pemberian noken anyaman mama-mama sebagai cinderamata, hingga kisah penyembuhan penyakit yang konon terbantu oleh mandi air panas.

“Kami bukan hanya menjual pemandangan. Kami menawarkan kehangatan keluarga. Setiap tamu kami anggap saudara,” paparnya penuh bangga.

Hasilnya perubahan terasa nyata. Dari yang semula hanya menyambut tamu lokal sejak 2007, wisata air panas Malasigi kini mulai dilirik turis dari Jayapura, bahkan luar daerah. Berkat pendampingan yang konsisten dari Pertamina , NGO dan pemerintah serta warga setempat, sehingga menorehkan prestasi meraih Juara I pelopor wisata di tingkat provinsi dan Juara II di tingkat nasional.

“Terimakasih kepada Pertamina dan pemerintah, dulunya cuma hidup berburu di hutan, totok sagu, sekarang dari wisata yang kami jalankan akhirnya anak-anak sekolah. Selanjutnya, untuk pemberian beasiswa menggunakan hasil dari wisata,” urainya.

Program CSR Pertamina Tak Hanya Sekedar Seremonial

Manager Communication Relations (Comrel) dan Community Involvement Development (CID) Regional Indonesia Timur, Pertamina EP Cepu, Rahmat Drajat saat memberikan sambutan pembukaan di acara Media Gathering 2025 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, di Makassar.

Terpisah, Manager Communication Relations (Comrel) dan Community Involvement Development (CID) Regional Indonesia Timur, Pertamina EP Cepu, Rahmat Drajat menegaskan, program CSR Pertamina bukan sekadar kegiatan seremonial. Seperti di kampung Malasigi, Papua Barat Daya di daerah ini program pemberdayaan masyarakat tumbuh dari bawah. Tentu melalui proses social mapping yang ketat, hingga terbentuklah program yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat.

“Dari panel surya, air bersih, pelatihan UMKM, hingga dukungan wisata alam berbasis keanekaragaman hayati dan budaya lokal, semuanya dibentuk dengan prinsip keberlanjutan,” beber Rahmat.

Selanjutnya, Pertamina berkeinginan program ini tidak berhenti pada generasi sekarang, tapi juga memberi kail untuk anak muda selanjutnya. Diharapkan yang ditanam hari ini bisa tumbuh dan memberi manfaat jangka panjang. Selain itu, ada juga salah program ini adalah penguatan “Lokal Heroes”. Yakni tokoh-tokoh masyarakat yang menjadi motor penggerak di daerahnya dalam mengembangkan potensi lokal.

“Kami hanya menyediakan program dan fasilitas, tapi keberhasilan program itu sangat tergantung pada masyarakat itu sendiri. Dan di sinilah peran lokal heroes menjadi penting,” lanjutnya.

Tentu yang membanggakan ialah kisah sukses beberapa kampung binaan kini menjadi inspirasi bagi daerah lain. Dari kampung yang dahulu tak teraliri listrik dan air bersih, kini berkembang menjadi destinasi wisata yang tak hanya memberi pengalaman, tetapi juga penghidupan.

“Pertamina berharap model pendekatan partisipatif dan kolaboratif ini bisa direplikasi di wilayah lain, memperkaya zona pengembangan CSR yang berkelanjutan,” tutupnya.(Sal/And/Red)

Suara Data Network

assalamualaikum

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button