Selain Berwirausaha, Pemuda di Jatim Sebaiknya juga Berpolitik

 

SURABAYA, SUARADATA.com-Para pemuda sebaiknya tak hanya menggeluti dunia usaha saja, melainkan juga harus terjun ke dunia politik. Hal itu perlu dilakukan mengingat Jawa Timur saat ini tengah memasuki era bonus demografi.

Pasalnya usia penduduk produktif 15 – 64 tahun sangat dominan. Karena itu peran pemuda sangat penting dalam menentukan arah masa depan bangsa.

Berawal dari situ, Gerakan Pemuda Moderat Nusantara (GPMN) membedah peran pemuda dalam seminar peran pemuda dalam perekonomian. Dengan tema “Ada Apa dengan Pemuda dan Ekonomi” yang dilaksanakan 9 Oktober 2021.

Ketua GPMN, Ahmad Maududi mengatkan, dalam setiap catatan sejarah, pemuda selalu memberikan perubahan dan pengaruh besar. Karena itu, pemuda harus mampu menjadi solusi untuk orang lain, serta memberi jalan keluar dalam setiap problematika bangsa.

“Jika hari ini ada moderasi beragama, maka GPMN terus melangkah dengan Moderasi Budaya, Sosial, Ekonomi, dan lain sebagainya,” ungkap Putra tokoh NU, KH. Ali Maschan Moesa, Minggu (10/10/2021).

Selanjutnya, Heri Cahyo Bagus Setiawan, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pesantren Enterpreneur Indonesia (APEI) Jatim yang menjadi pembicara seminar mengungkapkan, pemuda harus mandiri secara ekonomi. Karena itu, mengajak anak muda berwirausaha, terutama santri.

“Saat ini yang terpenting memenuhi kebutuhan hidup, bukan gaya hidup. Karena itu, pemuda harus mandiri secara ekonomi dengan berwirausaha. Saya kira Pemprov Jatim dengan program OPOP sudah memberi stimulus bagi para santri dan pemuda,” tutur pria yang akrab disapa Gus Heri.

Terpisah, Presiden Laskar Sholawat Nusantara (LSN), Muhammad Fawait yang hadir secara daring mengatakan di era bonus demografi peran pemuda akan sangat menentukan arah negara. Baik peran dalam dunia usaha yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru, maupun peran dalam politik kedepan.

Ketua Fraksi Gerindra DPRD Jatim yang kerap disapa Gus Fawait itu berharap dalam kesempatan seminar yang diadakan oleh GPMN ini, pemuda jangan antipati kepada dunia politik. Justru harus lebih care kepada dunia politik, karena politik instrumen untuk menentukan sebuah kebijakan yang berpengaruh secara luas kepada masyarakat.

“Jika perlu ketua dan anggota GPMN bisa berperan aktif dalam momen politik ke depannya, baik eksekutif maupun di legislatif,” ujar pengasuh Pondok Pesantren Nurul Chotib, Al Qodiri IV Jember tersebut.(Di/And/Red)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top