EventsPendidikan

Soundtoloyo Warnai Pergantian Tahun di Tuban, Kolaborasi Budaya Jepang–Indonesia Tawarkan Spirit Kesetaraan

pertunjukan seni teatrikal dan musik eksperimental bertajuk Soundtoloyo. Digelar di Shankara Tuban, pertunjukan ini menjadi ruang temu kolaborasi lintas budaya Jepang–Indonesia.

TUBAN, SUARADATA.com-Pergantian tahun 2025 menuju 2026 di Kabupaten Tuban tidak dirayakan dengan hiruk pikuk kembang api dan terompet.

Di Desa Kinanti, Kecamatan Tambakboyo, sekelompok pemuda justru menghadirkan perayaan tahun baru yang sarat makna. Yakni melalui pertunjukan seni teatrikal dan musik eksperimental bertajuk Soundtoloyo.

Digelar di Shankara Tuban, pertunjukan ini menjadi ruang temu kolaborasi lintas budaya Jepang–Indonesia yang digagas komunitas Prewangan. Komunitas ini merupakan wadah pengembangan seni, sains, dan teknologi berbasis komunitas yang terbuka dan kolaboratif.

Sejumlah musisi dan seniman turut ambil bagian, di antaranya Sakana-Kani, Kona Eguchi, Insyaallah Noise x Babiteng, Sandaria, dan Hewodn. Mereka menampilkan karya-karya eksperimental yang mengedepankan nilai refleksi, spiritualitas, dan kemanusiaan.

Pertunjukan dibuka oleh Sakana-Kani, kolaborasi seniman Tuban Khafid Fadli atau Toyol Dolanan Nuklir dengan seniman Jepang asal Kyoto, Yukari Ono.

Keduanya memadukan ritual minum teh Jepang (Chanoyu Matcha) dengan ekspresi tradisi Indonesia dalam format teatrikal dan musikal.

Toyol tampil mengenakan perpaduan busana tradisional Nusantara, seperti udeng khas Tengger Bromo dan busana Toraja, sementara Yukari tampil anggun dengan kimono Jepang. Musik dibawakan menggunakan alat musik petik buatan Toyol sendiri yang terinspirasi dari Biwa Jepang dan Gambus, dimainkan sambil bersila layaknya seorang dalang.

“Ritual upacara teh dibuat seolah kita sedang mengadakan tahlilan, kami berdoa untuk Sen-no Rikyu, seorang pahlawan dari Jepang yang sosoknya menyerukan kesetaran antar manusia melalui teh,” kata Toyol yang bernama asli Khafid Fadli.

Lanjutnya, kolaborasi dua budaya dalam berdoa ini menghadirkan sentuhan unik dan sakral dalam penampilan Sakana-Kani. Toyol menyampaikan, pandangan politik Sen-no Rikyu membuat dirinya menjadi bidikan penguasa Jepang pada saat itu, yang memaksa dirinya untuk melakukan Seppu (bunuh diri) untuk melindungi anak buahnya.

“Sakana-Kani menginternalisasikan filosofi tersebut melalui tatanan panggung yang sejajar dengan penonton untuk menyampaikan pesan kesetaraan antar manusia. Bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang setara dalam mengekspresikan pandangan politiknya,” tambahnya.

Keunikan lain dari kolaborasi Jepang – Indonesia ini adalah mitologi yang mendasari perjalanan seni mereka. Dalam bahasa Jepang, Sakana artinya Ikan, Kani bermakna Kepiting.

Dalam budaya Jawa, seseorang yang lahir pada tanggal 15 dikaitkan dengan unsur air yang berarti, kebebasan dan intuisi. Toyol yang lahir pada tanggal 15 merepresentasikan Sakana (Ikan). Yukari Ono, yang lahir dengan zodiac Cancer dengan lambang kepiting berlaku sebagai Kani yang menjadi keseimbangan antara tradisi dan eksplorasi.

“Sesuai dengan mitologi tersebut, Toyol sebagai ikan senang bermain ketika bertemu dengan kepiting (Yukari), menghubungkan keterikatan dalam penampilan mereka,” tuturnya.

Seniman Jepang lain yang turut meramaikan pertunjukan kolaborasi Jepang – Indonesia adalah Kona Eguchi. Eguchi merupakan seniman lukis dari Kyoto yang sesak akan formalitas. Ia datang ke Indonesia dengan spirit mencari ekspresi baru yang dapat memberikan nuansa serta pengalaman melalui residensi di Jawa Timur, Indonesia. Eguchi kemudian menemukan kedekatan dan koneksi antar manusia melalui medium “traktor”.

Pengalamannya mengendarai traktor hingga terjungkal di Yogyakarta memberikan warna baru. Sejak saat itu Ia mulai fokus untuk menciptakan karya seni melalui penampilan teatrikal.

“Karakteristik budaya di Indonesia sangat berbeda dengan Jepang. Di Jepang, barang yang sudah rusak akan diganti, disini, orang berusaha memperbaiki barang tersebut, bahkan melakukannya dengan gotong royong,” tutur Eguchi.

Pendekatan humanis baru ini Ia temukan tatkala menampilkan seni pertujukan di Lembana, Madura. Kala itu, traktor yang ia gunakan rusak di tengah penampilan. Seluruh audiens bahu-membahu membantu memperbaiki traktor tersebut.

Eguchi sangat terkesan dengan budaya tersebut. Menurutnya, budaya gotong royong yang erat dengan masyarakat komunal di Indonesia memberikan perspektif baru soal hubungan sosial antar manusia yang unik.

“Sebuah budaya yang kini kian terkikis di negaranya sendiri,” akunya.

Tak kalah menarik datang penampilan dari Hewodn, musisi lokal dari Rengel, Tuban. Hewodn membawakan sebuah refleksi doa dan rasa hormat kepada laut sebagai sumber kehidupan, dituangkan dalam sebuah instrumen musik yang dihasilkan dari alat musik Noise Box dan Horror Box.

Alat musik tersebut ia gagas dari besi-besi bekas pakai yang didaur ulang. Mereka bereksperimen memindahkan keindahan suara laut dan keanekaragaman hayati melalui alat musik. Alunan musiknya dibuat menjadi sebuah munajat agar laut tetap memberikan keberkahan pada umat manusia. Karya ini ia agungkan dengan judul “Dongo Kanggo Segoro” atau Do’a Untuk Laut.

Tak hanya Hawodn, musisi instrumental lain seperti InsyaAllah Noise x Babiteng dan Sandaria juga turut meramaikan gelaran Soundtoloyo ini. Menutup tahun 2025, pertunjukan seni ini diharapkan dapat menginspirasi belantara musik dan kesenian di Kota Tuban.

Soundtoloyo ditampilkan dengan apik melalui kolaborasi Prewangan dan Shankara Institute, sebuah wadah kreatif bagi komunitas dan pemuda dari Desa Kinanti, Kecamatan Tambakboyo. Shankara Institute berangkat dari gerakan pemuda yang mendedikasikan diri mereka untuk lingkungan dan pendidikan di Tuban.

“Kami ingin memberikan manfaat dan hadir untuk masyarakat. Dengan berbagai latar belakang pengalaman dan pendidikan, kami berharap untuk dapat terus berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan organisasi,” tutur Zulham Fahri, pendiri Shankara Insititute.

Fahri menambahkan, Shankara Institute juga terbuka bagi masyarakat yang ingin berbagi pengalaman dari berbagai bidang lainnya, termasuk seni dan budaya.

“Kami selalu terbuka dengan siapapun, termasuk para pemuda yang ingin belajar dan diskusi,”pungkasnya.(Sal/And/Red)

Suara Data Network

assalamualaikum

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button