Events

Srikandi Tuban Pimpin GINSI Jatim, Dorong Importir Daerah Lebih Adaptif

Hana Belladina, Srikandi asal Tuban resmi dipercaya memimpin Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur untuk periode 2025–2030.

TUBAN, SUARADATA.com-Sosok srikandi asal Kabupaten Tuban, Hana Belladina resmi dipercaya memimpin Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur untuk periode 2025–2030.

Terpilihnya Hana menandai babak baru kepemimpinan GINSI Jatim yang menitikberatkan pada penguatan pemahaman regulasi serta efisiensi proses importasi, khususnya bagi pelaku usaha daerah.

Hana Belladina terpilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-X Badan Pengurus Daerah (BPD) GINSI Jawa Timur yang digelar pertengahan bulan lalu. Forum tersebut dihadiri sekitar 265 importir dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.

Sebagai pengusaha asal Tuban, perempuan yang akrab disapa Bella ini berkeinginan mengajak importir daerah, khususnya dari Tuban, untuk tumbuh dan berkembang bersama di bawah naungan GINSI. Menurutnya, masih banyak importir daerah yang menghadapi kendala akibat minimnya pemahaman terhadap regulasi dan kebijakan importasi.

“Banyak importir daerah yang belum sepenuhnya memahami aturan. Padahal, sebagian besar impor dilakukan untuk memenuhi bahan baku produksi yang hasilnya diekspor kembali,” ujar Bella saat pulang kampung ke Tuban, Senin (2/2/2026).

Ia mencontohkan usahanya yang mengimpor rempah-rempah dari India untuk diolah di dalam negeri sebelum diekspor ke berbagai negara. Kendala dalam proses impor, lanjutnya, akan berdampak langsung pada kelancaran suplai bahan baku dan berujung pada tersendatnya produksi.

Bella menilai, seiring pesatnya perkembangan industri di Tuban dan wilayah Jawa Timur, kebutuhan bahan baku yang belum dapat dipenuhi dari dalam negeri akan terus meningkat. Kondisi ini menuntut importir untuk semakin adaptif terhadap dinamika kebijakan perdagangan internasional.

“Saya berkomitmen membawa GINSI Jawa Timur menjadi rumah bersama yang memberikan solusi nyata bagi para importir, termasuk importir daerah, bukan sekadar organisasi formal,” tegasnya.

Salah satu program utama yang diusung Hana adalah peningkatan pemahaman anggota terhadap regulasi importasi. GINSI Jatim berencana rutin menggelar seminar dan workshop terkait kebijakan terbaru dari Kementerian Perdagangan, Bea Cukai, dan instansi terkait lainnya. Selain itu, GINSI juga akan menyusun buku panduan serta e-book tata cara importasi yang dapat diakses seluruh anggota.

Tak hanya fokus pada regulasi, lulusan S2 Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya ini juga menargetkan efisiensi proses pengeluaran barang impor. Menurutnya, kelancaran arus barang dan penekanan biaya importasi menjadi kunci daya saing pelaku usaha di tengah tekanan ekonomi global.

“Importir harus efisien agar tetap bertahan. Kami akan membantu anggota agar proses pengeluaran barang lebih cepat dan biayanya bisa ditekan,” ujarnya.

Untuk mendukung hal tersebut, GINSI Jatim akan membentuk tim kerja khusus yang bertugas memantau dan mencari solusi atas hambatan dalam proses pengeluaran barang. Pemanfaatan teknologi, seperti Electronic Data Interchange (EDI), juga akan terus didorong. Di sisi lain, kerja sama dengan penyedia jasa logistik akan dijajaki guna memperoleh tarif pengiriman yang lebih kompetitif bagi anggota.

Hana juga menekankan pentingnya membangun komunikasi aktif dengan instansi pemerintah, mulai dari Bea Cukai hingga kementerian terkait. Menurutnya, dialog yang intensif akan menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif dan transparan.

“Transparansi dan kepatuhan terhadap aturan adalah fondasi utama. Jika anggota tertib izin dan laporan, kepercayaan pemerintah dan mitra usaha akan semakin kuat,” pungkasnya.(Sal/And/Red)

Suara Data Network

assalamualaikum

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button