Kilas Peristiwa

Harga Kedelai dan Plastik Melonjak, Perajin Tempe di Tuban Kecilkan Ukuran Produk

Perajin tempe tengah menyelesaikan proses produksi.

TUBAN, SUARADATA.com-Kenaikan harga kedelai impor yang dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan para perajin tempe di Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kondisi tersebut membuat biaya produksi semakin membengkak dan menekan keuntungan pelaku usaha kecil.

Salah satu perajin tempe yang merasakan dampaknya adalah Tri Mulyani (42), warga Kelurahan Sukolilo, Kabupaten Tuban. Perempuan yang telah menekuni usaha pembuatan tempe selama lebih dari 20 tahun itu mengaku harga kedelai terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.

“Harga kedelai dulu Rp8.500 per kilogram, sekarang sudah Rp10.500. Karena kedelai impor dari Amerika, jadi pengaruh kurs dolar dan kondisi perang juga terasa,” ujarnya, saat ditemui dirumah produksinya, Rabu (20/5/2026).

Tidak hanya harga kedelai yang naik, bahan pendukung lain seperti plastik kemasan juga mengalami lonjakan harga cukup tinggi. Jika sebelumnya harga plastik sekitar Rp30 ribu per kilogram, kini mencapai Rp52 ribu per kilogram.
Kondisi tersebut membuat biaya produksi semakin berat. Namun demikian, Tri memilih tidak menaikkan harga jual tempe demi mempertahankan pelanggan.

“Kalau harga dinaikkan takut pembeli keberatan dan lari ke tempat lain. Jadi terpaksa ukuran tempenya yang diperkecil,” katanya.

Saat ini, tempe produksinya dijual dengan harga Rp2.500 hingga Rp3.000 per potong. Setiap hari, Tri bersama dua orang karyawannya memproduksi sekitar 75 hingga 80 kilogram tempe yang dipasok ke Pasar Baru Tuban.

Ia menjelaskan, proses pembuatan tempe membutuhkan waktu hingga tiga hari. Diawali dengan perebusan kedelai, kemudian direndam semalaman, digiling, dicuci bersih, ditiriskan, hingga akhirnya dikemas dan difermentasi.

“Pertama kacang direbus, setelah mendidih direndam semalaman. Besok paginya digiling, dicuci bersih, ditiriskan lalu dikemas,” jelasnya.

Di tengah tekanan kenaikan bahan baku, Tri mengaku tetap mempertahankan usahanya karena menjadi sumber penghasilan utama keluarga. Meski produksi berjalan normal, keuntungan yang diperoleh kini semakin menipis.

“Produksi tetap normal, cuma keuntungan berkurang. Penjualan juga tergantung pemasaran,” pungkasnya.(Sal/And/Red)

Suara Data Network

assalamualaikum

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button