Kilas Peristiwa

Ratusan Penggembira Konvoi Diamankan Polisi: 170 Motor dan 294 Orang, Termasuk Anak 12 Tahun

Para penggembira konvoi yang diamankan di Mapolres Tuban.

TUBAN, SUARADATA.com-Kepolisian Resor (Polres) Tuban mengambil tindakan tegas terhadap ratusan penggembira yang nekat melakukan konvoi dan bersikap anarkis saat momen pengesahan warga baru salah satu perguruan silat di wilayahnya, Selasa (8/7/2025) malam.

Hingga Rabu (9/7/2025) dini hari, sebanyak 170 unit sepeda motor dan 294 orang berhasil diamankan dari sejumlah titik penyekatan pintu masuk kota Tuban.

Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai dari Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Surabaya, hingga Rembang. Mirisnya, di antara mereka, ditemukan seorang anak berusia 12 tahun yang masih duduk di bangku kelas 6 SD.

Kapolres Tuban, AKBP William Cornelis Tanasale, yang turun langsung ke lokasi mengatakan bahwa tindakan ini merupakan respons terhadap keresahan masyarakat yang setiap tahun muncul akibat konvoi liar yang berujung pada gangguan ketertiban umum.

“Sebelumnya sudah kami imbau agar tidak konvoi, tapi tetap dilakukan dan bahkan disertai tindakan anarkis,” tegas AKBP Tanasale.

Para penggembira yang nekat menerobos masuk ke Kota Tuban melalui jalur tikus akhirnya terjaring penyekatan. Sebagian bahkan diamankan karena kedapatan membawa dan mengonsumsi minuman keras jenis arak.

“Ada beberapa orang yang kita amankan kedapatan membawa dan mengkonsumsi minuman keras jenis arak,” tuturnya.

Lebih jauh, Kapolres menyoroti insiden tragis yang terjadi di beberapa daerah lain, seperti Tulungagung, di mana seorang ibu meninggal dunia akibat tertabrak konvoi, serta peristiwa penusukan di Kota Malang yang menyebabkan satu nyawa melayang.

“Bayangkan anaknya masih kecil, ibunya meninggal gara-gara ulah tidak bertanggung jawab. Kalau kamu ribut di jalan, terus ditusuk orang, orang tua kalian bagaimana?” ungkapnya kepada para penggembira.

Kapolres menegaskan, para penggembira yang telah diamankan hanya akan dipulangkan jika dijemput langsung oleh orang tuanya. Langkah ini sebagai bentuk tanggung jawab moral dan edukasi keluarga agar turut serta menjaga anak-anaknya dari tindakan yang melanggar hukum.

“Kalau nanti ketangkap lagi, bukan hanya motornya yang kami tahan, tapi orangnya juga,” tegas perwira berpangkat melati dua itu.

Sebagian dari mereka bahkan sempat menjadi korban amuk warga karena melakukan perusakan dan onar sebelum berhasil diamankan polisi. Beberapa pengendara juga mengalami luka akibat terjatuh dan langsung diberikan perawatan oleh petugas.

Sebelum dipulangkan, seluruh penggembira yang diamankan diberikan sarapan pagi oleh aparat sebagai bentuk pendekatan humanis dan preventif.

Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa kedatangan mereka dipicu oleh undangan bernuansa provokatif yang disebar melalui media sosial. Ajakan tersebut mendorong para penggembira datang dengan niat membuat kekacauan saat momen pengesahan berlangsung.(Sal/And/Red)

Suara Data Network

assalamualaikum

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button