Mengungkap Potensi Fisika dalam Mewujudkan Pertanian Presisi: Kiprah Mahasiswa UPN Veteran Jatim di International National Summer Course UB 2025
Penulis: Autia Nurul Pujianti
Saya, Autia Nurul Pujianti mahasiswa Fisika dari UPN “Veteran” Jawa Timur baru saja mendapatkan kesempatan berharga untuk mengikuti International National Summer Course (INSC) 2025 yang diselenggarakan oleh Universitas Brawijaya (UB).
Kegiatan ini berlangsung selama tiga bulan penuh mulai 10 Juni hingga 31 Agustus 2025, dan diikuti oleh beberapa kampus nasional maupun internasional. INSC dirancang dengan kombinasi kegiatan online dan on-site untuk memberikan fleksibilitas dan pengalaman belajar yang komprehensif.
Selama periode tersebut, kami disuguhkan dengan beragam materi perkuliahan, diskusi, dan studi kasus yang dipandu oleh para ahli di bidang pertanian dan teknologi. Ragam topik yang dibahas secara online meliputi teknologi pemrosesan produk bebas gluten dan produksi kopi berkelanjutan. Termasuk rekayasa makanan, aplikasi biosensor, hingga pemanfaatan biochar.
Saya sendiri berkesempatan merasakan langsung pengalaman on-site yang intensif dari tanggal 23 hingga 26 Juni 2025. Awalnya sempat merasa khawatir karena latar belakang saya adalah fisika. Sementara INSC ini berfokus pada teknologi pertanian dan pengolahan pangan. Namun, kekhawatiran itu sirna setelah menyadari bahwa prinsip-prinsip fisika memiliki peran krusial dalam mewujudkan pertanian yang lebih presisi dan berkelanjutan.
INSC ini benar-benar membuka wawasan saya tentang bagaimana prinsip-prinsip fisika dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang pertanian. Mulai dari pengolahan pangan hingga pemantauan lingkungan. Rangkaian kegiatan on-site saya dimulai pada tanggal 23 Juni dengan registrasi dan pembukaan acara di gedung Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya. Setelah itu mengikuti dua materi perkuliahan yang sangat menarik, yakni materi tentang Teknologi Bakery dan Pangan Fungsional.
Termasuk, membahas bagaimana proses pembuatan roti tawar dan pangan fungsional. Pada 24 Juni, saya berkesempatan mengikuti pelatihan di laboratorium pilot plant. Disini mulai belajar tentang proses pengolahan tepung porang, mulai dari pengolahan umbi hingga menjadi produk olahan seperti jelly drink dan mie porang.
Pada 25 Juni 2025, kegiatan cukup padat. Pagi harinya mengikuti pelatihan di laboratorium FPTC, di mana belajar tentang pembuatan roti tawar dan pangan fungsional. Setelah itu, melanjutkan dengan kunjungan industri ke PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk di Wonoayu, Sidoarjo.
Di PT Japfa, bisa berkesempatan melihat langsung proses produksi dan pengolahan limbah di pabrik. Didampingi oleh manajer PT Japfa, kami belajar tentang bagaimana perusahaan berupaya untuk mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan operasionalnya.
Saya juga mengamati bagaimana sensor-sensor dan sistem kontrol otomatis digunakan untuk memantau dan mengoptimalkan proses produksi. Dari sini semakin menyadari bahwa fisika memiliki peran aktif dan krusial dalam proses produksi dan pengolahan pangan pertanian, terutama dalam hal pengukuran, kontrol, dan optimasi.
Hari terakhir, 26 Juni, kelompok kami melakukan presentasi hasil pelatihan yang telah dilakukan. Setelah kegiatan presentasi selesai, dilanjutkan dengan penutupan kegiatan on-site dan awarding. Alhamdulillah, presentasi kami terpilih sebagai yang terbaik. Selain itu, saya juga mendapatkan penghargaan sebagai peserta terbaik.
Keberhasilan mengikuti INSC ini tentu tidak lepas dari dukungan dan bimbingan dari Bapak Reffany Choiru Rizkiarna, S.Si., M. Sc. selaku dosen pembimbing saya dari UPN “Veteran” Jawa Timur, serta Ibu Nur Istianah, ST., MT., M.Eng., PhD. selaku pembimbing lapangan selama kegiatan on-site.
Bagi saya, INSC UB ini telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pemahaman tentang potensi fisika dalam mewujudkan pertanian presisi dan berkelanjutan. Tentu emakin termotivasi untuk mengembangkan solusi-solusi inovatif yang berbasis fisika untuk meningkatkan produktivitas pertanian, mengurangi dampak lingkungan, dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Disisi lain, juga melihat bagaimana INSC UB ini memberikan kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada tujuan nomor 2 (Tanpa Kelaparan), tujuan nomor 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), dan tujuan nomor 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Saya berharap pengalaman mengikuti INSC UB ini dapat menjadi bekal bagi saya untuk berkontribusi lebih banyak di sektor pertanian, khususnya dalam bidang pengembangan teknologi yang berbasis fisika.
Saya juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan agar semakin banyak mahasiswa yang dapat merasakan manfaatnya.(*)