Tradisi Pesantren yang Disalah Pahami: Antara Cinta Santri Pada Kiyai dan Bias Cara Pandang Modern
Oleh: M. Arifuddin (Katib Syuriah PCNU Tuban)
Jika kita mengamati fenomena gugatan pada pesantren akhir-akhir ini, maka akan kita temukan bahwa sejatinya kolonialisme pengetahuan tak hanya menghapus narasi.
Tapi juga membungkam cara masyarakat lokal memahami diri sendiri. Ketika praktik seperti jalan ngesot di depan kyai cium tangan kyai atau bisyaroh santri pada kyai dilabeli “tak rasional” atau “feodal”.
Sehingga, yang terjadi sebenarnya adalah kekerasan epistemik. Yaitu cara budaya lokal mengekspresikan cinta dan adab sopan santun dihapus karena tak sesuai kerangka berpikir Barat yang katanya moderat. Epistemik semacam ini akan menggerus dan mempengaruhi pola pemikiran dan sikap generasi muda.
Mereka akan terlena dan mengikuti pemikiran-pemikiran yang katanya moderat dengan meninggalkan budaya lokal yang sangat Arif penuh adab dan tatakrama.
Hampir 1,5 abad yg lalu Rasulullah telah memprediksi hal ini dalam sebuah haditsnya :
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قالوا يا رسول الله اليهود والنصارى قال فمن ؟
Sungguh kalian semua akan mengikuti ajaran dan tradisi orang-orang sebelum kamu sedikit demi sedikit. Hingga ketika mereka masuk dalam rumah hewan biawak maka kalian akan mengikutinya.
Lalu para sahabat bertanya: ya Rasulullah apakah mereka yg diikuti itu orang Yahudi atau Nasrani ?
Rasulullah menjawab: siapa lagi ?
Budaya barat yang katanya moderat adalah budaya-budaya non muslim yang jauh dari budaya Islam dan penuh sopan santun. Karenanya umat Islam jangan sampai terperangkap pada pemikiran-pemikiran tersebut.
Tradisi penghormatan terhadap guru di pesantren bukanlah bentuk pengkultusan. Melainkan wujud adab dan etika keilmuan yang kuat dalam ajaran Islam. Banyak hadits sahih yang menjelaskan tentang ini.
Dalam budaya Indonesia dan pesantren pada khususnya sikap santri. Seperti mencium tangan, menunduk atau bersimpuh di hadapan kiai adalah ekspresi lokal dari penghormatan terhadap ilmu dan pembawaannya. Selama tidak melampaui batas-batas syariat, praktik tersebut tetap sejalan dengan ajaran Islam.
Oleh karena itu, anggapan bahwa tradisi pesantren sebagai bentuk kemusyrikan merupakan pandangan keliru yang lahir dari penilaian sepihak. Ketika kita melihat antropologi masyarakat Indonesia umumnya dan komunitas pesantren pada khususnya. Mereka lebih banyak memiliki aturan, tradisi seperti penghormatan kepada orang tua, guru dan orang-orang yang Sholeh tokoh agama dan masyarakat
Secara praktik, guru, ulama, orang tua merupakan orang-orang yang berjasa dalam kehidupan kita. Karena itu sudah sewajarnya kita memberikan penghormatan kepada mereka .
Penghormatan kepada kedua orang tua guru dan para ulama serta orang-orang Sholeh berbentuk cium tangan, duduk bersimpuh , menundukkan kepala di depan mereka tidak lah dilarang oleh agama.
Hal ini berdasarkan Hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:
عن زارع رضي الله تعالى عنه وكان في وفد عبد القيس قال: فجعلنا نتبادر من روا حلنا فنقبل يدالنبي صلى الله عليه وسلم ورجله. (سنن أبو داود ، رقم ٤٥٤٨)
Artinya: Dari Zaro’ ketika beliau menjadi salah satu delegasi suku ‘Abdil Qais, beliau berkata, Kemudian kami segera turun dari kendaraan kita, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi saw
(HR Sunan Abi Dawud).
Imam An Nawawy seorang ulama pakar hadits dalam kitab karyanya Fatawy An Nawawy beliau menyatakan :
يستحب تقبيل أيدي الصالحين وفضلاء العلماء ويكره تقبيل يد غيرهم. (فتاوى الإم النووي، ص ٧٩).
Disunnahkan mencium tangan orang-oranh yang Sholeh, orang-orang yang memiliki keutamaan dari para ulama, dan dimakruhkan mencium tangan selain mereka. (Kitab: Fatawa Al Imam An Nawawy Hal.79)
Sedangkan, menundukkan kepala dihadapan guru juga tidak melanggar aturan syariat. Hal ini juga dipraktekkan dalam masa sahabat.
Salah seorang Sahabat bernama Usammah menceritakan bagaimana kondisi para sahabat ketika berada di majelis Nabi SAW Beliau mengatakan:
كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَأَنَّمَا عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ، لَا يَتَكَلَّمُ مِنَّا مُتَكَلِّمٌ
(الترغيب والترهيب ٣/٣٥٦)
“Dahulu ketika kami duduk di majelis Nabi SAW seakan-akan di atas kepala-kepala kami dihinggapi seekor burung. Tidak ada satupun dari kami yang berbicara (semua mendengar dengan seksama). Ketika di majlis ilmu
Para sahabat tidak ada yg berani mengangkat wajah memandang Rosulullah. ( Kitab Attarghib wat Tarhib 3/356 ).
Sudah jelas sekali bahwa semua yang dipraktekkan dalam dunia pesantren mempunyai dalil yang kuat. Bagi mereka yang selama ini menggugat dan menghujat tradisi pesantren tersebut itu karena ketidak pengertian mereka. Atau karena mereka dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang katanya moderat. Padahal sebenarnya itu adalah bagian dari kolonialisme pengetahuan dan tradisi.
Kita hanya bisa berdoa pada Alloh mudah2 an mereka dibuka mata hatinya oleh Alloh, atas ketidak mengertian mereka.
اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون